Puisi-puisi Apriano Josman
Mencari Kebenaran!
MOKKERS.COM— Di sudut kota yang terpojok, ada sebuah kampung kecil sangat terkucil jauh dari kata keramaian juga dengan kesejahteraan apa lagi dengan keadilan
Adakah ada dari kaum elite yang sedang
mengarah ke sana? Saya yakin itu ada, tetapi kerjanya hanya di perbatasan,
mencari koalisi dengan diksi yang terpilih
Adegan ini sungguh mengejutkan, di luar
dugaan bahwa perasaan tidak akan pernah bekerja sesuai dengan apa kata hati
sendiri, ini hanya imajinasi
Saya sedang mencari kebenaran, fakta di
balik pola yang ada itu ada apa? Mengapa? Seperti jatuh yang tidak bisa bangkit
lagi, tenggelam tak tahu arah pulang
Mencari tidak harus berjumpa, berjumpa
tidak harus berkata-kata, berkata-kata tidak harus dengan janji, janji tidak
harus ditepati, itu hanya kata yang mudah diucapkan namun sulit untuk ditepati
Topeng Wajah
Masih tersipu senyum manis di sudut
bibirnya yang tipis, seolah tidak ada batasnya, mekar dan tumbuh begitu saja
tidak tahu arah tetapi tepat sasaran
Seorang gadis sedang mengambil gambar, pakai filter atau tidak ya? Ah filter saja kan sudah biasa
Seorang gadis duduk tersipu di sudut pintu
rumah, tersenyum, ah cantik? Iyalah percaya diri amat
Sudah tiba waktunya mengukir kembali cinta
yang hilang beberapa hari yang lalu menepi di dasar dada dengan kata-kata yang
bermakna
Ah aku salah orang lagi, ternyata dia
tidak percaya diri lebih suka yang difilter daripada yang aslinya
Sudalah, sekarang memang suka tipu-tipu
dunia kaleng-kaleng
Gadis pulang gereja
Sementara hari minggu itu seorang gadis
dengan gaun merah berjalan di pinggir jalan setapak, di tangan kanannya
terdapat kitab suci dan tangan kirinya sebuah gambar Maria
Gadis dengan keadilan yang laur biasa
membawa sejuta harapan dengan hati terbuka Ia menabur senyum di setiap
perjalanannya dengan cinta
Mencintai Tuhan itu hal utama mencintai
kamu itu tidak pura-pura, aku membawah cintaku dengan segala doa dan harapan
puji Tuhan itu akan bermakna
Selain senyumnya bisa membunuh seribu mata
para lelaki buaya, ia juga bisa membunuh ketidakadilan dengan cinta dengan
jutaan kata-kata
Seorang gadis berjalan terus, lurus tidak
bercabang punya arah dengan tujuan harapan membakar di setiap perjalanannya
semoga bisa bercerita dilain kisah
Seorang gadis menepi kembali di pinggir
jalan, melambaikan tangan dengan ucapan sampai jumpa semoga bertemu kembali
dengan Tuhan, Maria di dalam rumah dengan seribu cinta
Ah kamu membuat aku tidak bisa tidur
bayangan terus melekat pada setiap isi kepala, minggu depan bertemu lagi ah
Siapa aku?
Rupa-rupa menolak lupa tidak dengan perasaan tapi dengan kenyataan, kira-kira sejauh ini siapakah aku? Apakah aku
adalah penata samudra tiada ada batasnya
Apa aku ini adalah aku yang menjadi kamu,
ataukah aku sengaja tidak tahu tentang aku? Tubuh yang kokoh tapi perasaan
rapuh itu aku?
Bunga di tengah taman itu indah sekali aku
ingin memilikinya, sayang bunga itu dilarang untuk dimiliki
Serpihan sedih-seduh ada pada aku tetapi
aku tidak tahu arah keluar dari kerapuhan ini sebab ini adalah percobaan yang
melekat di dasar hati
Aku berusaha untuk keluar dari zona ini, aku berusaha mencari jati diriku ini adalah perjalanan
sederhana yang rumit
Seminggu telah berlalu, apakah aku sudah
menemukan aku yang tidak dimiliki oleh aku yang lain?
Kepada Rembulan
Menata waktu ke waktu, tempat berteduh
bukan hanya saling bertemu merindukan ikut denyut jantung tidak ada batas waktu
Kepada gadis rambut pendek itu, setiap
malam Ia menata keindahan dengan wajah cerah penuh makna tiada rapuh
Kepada gadis rambut pendek itu, Ia menata
malam dengan menaruh harapan di setiap sudut mata membakar kenangan di dasar
dada
Kepada gadis rambut pendek itu, Ia melukis
keindahan malam dengan menabur senyum dan separuh nafas hanya untuk berteduh
Gadis itu tidak jauh berbeda dengan Maria,
kelembutan hatinya membalut luka di sepanjang kenangan yang tersisa
Malam itu gadis membakar keheningan malam
dengan serpihan-serpihan sedih-seduh tanpa waktu
Kepada rembulan Ia berteduh, membunuh
keheningan malam, membakar setiap kenangan di balik cinta tiada bermakna

Komentar
Posting Komentar